Seringai Abum IV: Anastasis — Antara Amarah dan Kehilangan


Mendengarkan album terbaru Seringai yang bertajuk IV: Anastasis melalui kanal YouTube resmi mereka memberikan pengalaman yang cukup berbeda dibanding rilisan-rilisan sebelumnya. Sejak pertama kali diputar, terasa bahwa album ini masih mengusung DNA khas Seringai—perpaduan metal, rock, dan hardcore yang agresif, padat, dan tanpa kompromi. Energi yang selama ini menjadi ciri utama mereka tetap terjaga, bahkan terdengar semakin matang dan terarah.

Namun, kekuatan terbesar Anastasis justru terasa pada sisi liriknya. Jika sebelumnya Seringai banyak dikenal lewat tema-tema yang garang dan penuh perlawanan, kali ini nuansa yang dihadirkan terasa lebih emosional dan personal. Amarah masih ada, tetapi kini bercampur dengan rasa kehilangan dan perenungan yang lebih dalam. Setiap lagu seperti membawa lapisan emosi yang tidak hanya meledak-ledak, tetapi juga menggugah dan mengajak pendengar untuk ikut meresapi.

Konteks di balik album ini tentu tak bisa dilepaskan dari kepergian Ricky Siahaan pada April 2025. Kehilangan tersebut terasa membekas dalam keseluruhan atmosfer album, menjadikannya bukan sekadar rilisan musik, tetapi juga semacam ruang ekspresi duka dan penghormatan. Ada kesan bahwa Anastasis menjadi titik penting dalam perjalanan Seringai—sebuah fase transisi yang tetap setia pada akar mereka, sekaligus membuka dimensi baru dalam penyampaian emosi.

Secara keseluruhan, IV: Anastasis adalah album yang solid, intens, dan penuh makna. Ia tidak hanya memuaskan dari sisi musikal, tetapi juga memberikan kedalaman emosional yang jarang ditemukan dalam rilisan Seringai sebelumnya. Bagi pendengar lama maupun baru, album ini layak untuk didengarkan secara utuh—bukan hanya untuk menikmati kerasnya musik, tetapi juga untuk memahami cerita dan perasaan yang mengalir di dalamnya.

Sejak awal kariernya, Seringai telah menelurkan sejumlah rilisan penting yang membentuk fondasi kuat dalam skena musik keras Indonesia. Dimulai dari High Octane Rock (2004) yang menjadi perkenalan eksplosif mereka, kemudian Serigala Militia (2007) yang semakin mengukuhkan identitas musikal band ini. Perjalanan tersebut berlanjut melalui Taring (2012) yang terdengar lebih matang dan solid, hingga Seperti Api (2018) yang memperlihatkan konsistensi sekaligus evolusi dalam eksplorasi sound mereka.