Band metal Jakarta Seringai kembali menunjukkan tajinya lewat perilisan dua video musik terbaru, “Sejati” dan “Senarai Feses”, yang hadir sebagai satu paket single pembuka menuju album keempat mereka, IV: Anastasis. Setelah cukup lama vakum dari rilisan penuh, comeback ini terasa bukan sekadar pelepas rindu bagi penggemar, tetapi juga menjadi pernyataan emosional tentang fase baru perjalanan band.
Review Single dan Video Musik
Nuansa “Gelap” dan Emosional
Sejak detik pertama, baik “Sejati” maupun “Senarai Feses” langsung menghadirkan atmosfer yang pekat, muram, dan penuh tekanan emosional. Visual yang dominan gelap dipadukan dengan tone sinematik memberi kesan bahwa Seringai sedang berada dalam fase reflektif yang lebih personal dibanding karya-karya sebelumnya.
Secara musikal, riff berat khas Seringai tetap terasa agresif, tetapi kali ini dibungkus dengan nuansa yang lebih kontemplatif. Liriknya tidak hanya mengandalkan kemarahan atau kritik sosial, melainkan juga menghadirkan rasa kehilangan, kehampaan, hingga pergulatan batin. Hal ini membuat dua lagu tersebut terasa lebih dewasa dan emosional.
“Sejati” tampil lebih melankolis dan atmosferik, sementara “Senarai Feses” membawa energi yang lebih liar dan tajam. Perpaduan keduanya menciptakan kontras yang menarik namun tetap terasa satu benang merah.
Dua Video Musik: “Sejati” & “Senarai Feses”
Konsep dua video musik sekaligus menjadi langkah menarik dari Seringai. Keduanya seperti mewakili dua sisi berbeda dari album IV: Anastasis.
“Sejati” menonjolkan sisi emosional dan artistik. Visualnya terasa lambat, sunyi, dan simbolik. Banyak adegan yang memberi ruang interpretasi tentang kehilangan, identitas, dan perjalanan manusia.
“Senarai Feses” hadir lebih keras dan brutal. Editing cepat, visual kasar, serta energi performatif band membuat video ini terasa lebih “liar” dan dekat dengan karakter thrash metal Seringai yang dikenal selama ini.
Meski berbeda pendekatan, keduanya tetap memiliki benang estetika yang konsisten: suram, intens, dan penuh simbol.
Penghormatan untuk Ricky Siahaan
Salah satu aspek paling menyentuh dari rilisan ini adalah bagaimana karya tersebut terasa sebagai penghormatan emosional bagi Ricky Siahaan. Kehadiran spirit Ricky terasa kuat, baik lewat visual, atmosfer lagu, maupun semangat musikal yang masih dipertahankan.
Alih-alih terasa sentimental berlebihan, penghormatan ini justru tampil elegan dan tulus. Seringai berhasil menyampaikan rasa kehilangan tanpa kehilangan identitas mereka sebagai band metal yang keras dan jujur.
Bagi penggemar lama, elemen ini kemungkinan menjadi bagian paling emosional dari keseluruhan rilisan.
Era Baru “IV: Anastasis”
Album IV: Anastasis yang dirilis pada 23 April 2026 tampaknya menjadi simbol kebangkitan baru bagi Seringai. Kata Anastasis sendiri identik dengan makna “kebangkitan”, dan itu tercermin jelas dalam arah musikal maupun visual mereka saat ini.
Jika album-album sebelumnya identik dengan energi pemberontakan dan kritik sosial yang frontal, era baru ini terasa lebih gelap, introspektif, dan sinematik. Namun identitas utama Seringai tetap utuh: riff tajam, energi agresif, dan lirik yang menggigit.
Comeback ini bukan sekadar nostalgia, tetapi evolusi. Seringai terdengar lebih matang tanpa kehilangan taringnya.
Poin Penting Rilisan Terbaru Seringai
- Comeback besar setelah masa vakum panjang.
- Merilis dua video musik sekaligus: “Sejati” dan “Senarai Feses”.
- Atmosfer visual dan musik lebih gelap, emosional, serta sinematik.
- Menjadi penghormatan emosional untuk Ricky Siahaan.
- Pembuka era baru album IV: Anastasis.
- Menampilkan evolusi musikal tanpa meninggalkan identitas thrash metal khas Seringai.
Secara keseluruhan, rilisan terbaru Seringai berhasil menjadi kombinasi antara amarah, kehilangan, dan kebangkitan. “Sejati” dan “Senarai Feses” bukan hanya single baru, tetapi penanda bahwa Seringai masih relevan, masih beringas, dan kini tampil dengan kedalaman emosional yang lebih kuat dari sebelumnya.
