Setiap bulan Safar dalam kalender Hijriyah, masyarakat Desa Ngaditirto, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, menggelar Tradisi Saparan, sebuah ritual adat yang penuh makna. Tradisi ini merupakan perwujudan rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan, serta doa dan harapan agar desa senantiasa diberikan keselamatan dan dijauhkan dari bencana.
Kirab Tiga Gunungan: Simbol Kemakmuran dan Gotong Royong
Puncak perayaan Tradisi Saparan ditandai dengan kirab budaya yang mengusung tiga gunungan hasil bumi. Gunungan ini berisi aneka sayur, buah, dan hasil pertanian yang dirangkai secara megah dan diarak oleh warga. Kirab dimulai dari depan rumah Kepala Desa dan berakhir di panggung kehormatan, diiringi irama gamelan dan semangat warga yang antusias menyambutnya.
Gunungan menjadi simbol kemakmuran dan keberkahan yang dirasakan bersama, sekaligus lambang gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat desa.
Rangkaian Merti Dusun: Menghormati Leluhur dan Menjaga Lingkungan
Tradisi Saparan adalah bagian dari Merti Dusun Ngaditirto, yang terdiri dari berbagai kegiatan bersih-bersih secara fisik dan spiritual. Salah satu agenda pentingnya adalah bersih makam para leluhur desa: Kyai Jonggarang, Ki Rodo, Mbah Kunthi, dan Putri Sundari. Ritual ini adalah bentuk penghormatan kepada pendiri desa serta permohonan restu agar desa tetap dalam lindungan dan kedamaian.
Kegiatan ini juga dilengkapi dengan bersih lingkungan desa, yang dilakukan secara gotong royong oleh seluruh warga. Pembersihan ini merupakan simbol menyucikan desa secara lahir dan batin.
Puncak Malam Hari: Doa Bersama dan Pesta Kesenian Tradisional
Pada malam puncak Tradisi Saparan, warga berkumpul untuk mujahadah atau doa bersama, memohon perlindungan dan keberkahan untuk desa. Setelah mujahadah, digelar pementasan wayang kulit semalam suntuk yang menjadi bagian dari ritual ruwatan desa, bertujuan untuk menolak bala dan membersihkan energi negatif dari lingkungan.
Selain wayang kulit, malam puncak juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan kesenian tradisional, seperti: Kuda Lumping, tarian magis yang menggambarkan ketangguhan prajurit berkuda. Topeng Ireng, kesenian khas Temanggung yang enerjik dan penuh semangat. Gedruk, pertunjukan maskulin dengan irama kuat dan hentakan kaki. Serta kesenian lokal lainnya yang melibatkan seniman dan pemuda desa.
Suasana malam menjadi semarak, memadukan spiritualitas dan hiburan rakyat yang memperkuat rasa persaudaraan dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.
Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Modernitas
Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, masyarakat Desa Ngaditirto tetap setia menjaga dan melestarikan tradisi Saparan. Keterlibatan generasi muda dalam seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya hidup, tapi juga tumbuh bersama zaman.
Tradisi Saparan adalah refleksi dari nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi rasa syukur, kebersamaan, dan keharmonisan antara manusia, leluhur, dan alam. Ia bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga tonggak budaya yang memperkuat identitas dan kebanggaan warga Desa Ngaditirto, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.





