Dusun Ngaditirto, Desa Ngaditirto, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, kembali menggelar acara adat tahunan yang sarat makna budaya dan spiritualitas: Merti Dusun Ngaditirto Fest 2025. Acara ini dilangsungkan pada tanggal 10 Agustus 2025, sebagai bentuk rasa syukur warga kepada Tuhan atas hasil panen dan limpahan berkah yang telah diterima selama setahun terakhir.
Merti Dusun: Warisan Budaya yang Menyatukan
Merti Dusun, atau yang juga dikenal sebagai Bersih Dusun, merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan terhadap alam dan Sang Pencipta. Di Dusun Ngaditirto, tradisi ini tak hanya menjadi simbol spiritualitas, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga dan menjaga harmoni kehidupan sosial.
Rangkaian Acara Penuh Warna
Perayaan dimulai sejak pagi hari dengan kirab gunungan hasil bumi, yang dibawa secara gotong royong oleh warga. Gunungan ini berisi hasil panen lokal seperti padi, sayuran, buah-buahan, hingga makanan olahan tradisional. Kirab ini juga dimeriahkan oleh berbagai kesenian rakyat yang menambah semarak suasana.
Memasuki siang hari, panggung seni digelar sebagai ruang ekspresi bagi seniman lokal. Warga dan pengunjung disuguhkan pentas seni tradisional yang mencerminkan kekayaan budaya Temanggung.
Pada sore harinya, suasana menjadi lebih khusyuk dengan digelarnya Pengajian Akbar yang dipimpin oleh KH. Ahmad Muddatsir dari Grabag, Magelang. Momen ini menjadi ajang renungan spiritual dan doa bersama untuk keselamatan serta kesejahteraan warga dusun di masa mendatang.
Malam harinya, acara mencapai puncaknya dengan pentas wayang kulit semalam suntuk yang dibawakan oleh dalang kondang Ki Wiyanto dari Tanggulanom, Temanggung. Pertunjukan ini tak hanya menghibur, tapi juga menjadi media edukasi moral dan nilai-nilai kebajikan dalam balutan cerita pewayangan.
Penutupan Meriah dengan Kesenian Rakyat
Sebagai penutup, panggung seni malam diisi oleh deretan kesenian tradisional Jawa yang luar biasa:
Kuda Lumping Bhekso Turonggo – Temanggung, Kesenian Topeng Ireng Satria Rimba – Temanggung, Kuda Lumping Turonggo Santoso – Sekayu, Pakis, Magelangm Kuda Lumping Putra Asih Manunggal – Jlamprang, Selopampang, Temanggung.
Gemuruh gamelan, hentakan kaki para penari, dan sorak-sorai penonton menjadi saksi bahwa tradisi ini tak hanya hidup, tetapi juga terus berkembang seiring zaman.
Penutup
Merti Dusun Ngaditirto Fest 2025 bukan sekadar acara tahunan, melainkan wujud nyata kecintaan warga terhadap budaya, alam, dan nilai-nilai spiritual. Di tengah arus modernisasi, kegiatan seperti ini menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah bagian penting dari jati diri masyarakat.
Semoga tradisi ini terus lestari, menginspirasi generasi muda untuk mencintai warisan leluhur, dan menjadi pengikat harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.





