Suasana khidmat bercampur meriah mewarnai prosesi Boyong Menoreh, atau Grebeg Parakan, yang digelar di Kabupaten Temanggung pada Minggu pagi (9/11/2025). Ribuan masyarakat tampak memadati kawasan Parakan untuk menyaksikan rangkaian tradisi budaya yang sarat sejarah ini.
Boyong Menoreh menjadi momentum penting yang setiap tahunnya mengingatkan kembali pada perpindahan pusat pemerintahan dari Parakan ke Temanggung. Meski kini beralih bentuk menjadi prosesi budaya, nilai simbolik dan historisnya tetap kuat terasa.
Puncak kekhidmatan terlihat saat Bupati Temanggung Agus Setyawan dan Wakil Bupati Nadia Muna, bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), mengikuti upacara penyerahan pataka di depan Masjid Jetis Parakan.
Pataka tersebut—yang menjadi simbol kewenangan, kepemimpinan, dan sejarah pemerintahan Temanggung—diserahkan secara seremonial kepada Bupati, Ketua DPRD, dan Wakil Bupati. Momen ini menjadi bagian paling sakral dalam rangkaian Boyong Menoreh, menandai penghormatan terhadap sejarah sekaligus penyegaran kembali nilai-nilai kepemimpinan daerah.
Suasana hening sesaat ketika pataka diserahkan, sebelum kemudian disambut tepuk tangan masyarakat yang hadir. Banyak warga terlihat mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel, menandai betapa berharganya peristiwa tersebut.
Kirab Budaya Menyusuri Jantung Parakan
Kirab budaya yang menjadi inti prosesi Boyong Menoreh pagi itu menempuh rute panjang dari Jetis, melewati Jalan Diponegoro, Pertigaan Pasar, hingga Perempatan Kemalangan, lalu menuju Masjid An-Najah sebelum akhirnya tiba di Kawedanan Parakan. Sepanjang perjalanan, arak-arakan disambut antusias masyarakat yang berjejer di trotoar, merekam setiap momen dengan kamera ponsel.
Di Kawedanan, rombongan beristirahat sejenak. Suasana yang semula khidmat kembali bergemuruh ketika sejumlah siswa SMK 17 Parakan menampilkan flashmob penuh energi. Penampilan ini disambut tepuk tangan panjang, memberi jeda meriah sebelum kirab dilanjutkan dengan karnaval budaya yang menambah semarak prosesi.
Dari Parakan Menuju Jantung Kota Temanggung
Setelah rangkaian acara di Kawedanan, kirab bergerak menuju pusat kota Temanggung. Rombongan disambut warga di sepanjang jalan hingga akhirnya berhenti di kawasan Pandean. Di titik ini, peserta kirab disambut oleh Pj. Sekda Temanggung, Ripto Susilo, sebagai perwakilan pemerintah daerah yang menerima rombongan sebelum melanjutkan agenda seremoni berikutnya.
Arak-arakan panjang, kerumunan warga, suara gamelan, barong, dan gunungan hasil bumi berpadu menciptakan atmosfer budaya yang sangat hidup—menjadikan prosesi Boyong Menoreh bukan hanya tontonan, tetapi pengalaman kolektif yang dirayakan masyarakat lintas generasi.
Rekonstruksi Sejarah: Mengingat Kadipaten Menoreh
Prosesi Boyong Menoreh bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Tradisi ini merupakan rekonstruksi sejarah yang menandai perpindahan pusat pemerintahan dari Parakan ke Temanggung pada awal abad ke-19.
Pada masa itu, wilayah ini dikenal sebagai Kadipaten Menoreh, yang dipimpin oleh Raden Tumenggung Aria Soemadilaga sekitar tahun 1819–1825. Setelah beliau wafat, kepemimpinan diteruskan oleh patihnya, Raden Ngabehi Djojonegoro (Djajanegara), berdasarkan Dekrit Pemerintah Hindia-Belanda Nomor 11 tanggal 7 April 1826.
Di bawah kepemimpinan Raden Tumenggung Djojonegoro, pusat pemerintahan dipindahkan dari Parakan ke Temanggung. Pemindahan ini kemudian disahkan secara administratif melalui Resolusi Pemerintah Hindia-Belanda Nomor 4 tertanggal 10 November 1834, yang sekaligus menjadi momentum kelahiran Kabupaten Temanggung.
Boyong Menoreh: Menghidupkan Kembali Jejak Sejarah
Dengan rangkaian prosesi panjang, kirab budaya, hingga simbol-simbol pemerintahan yang diarak secara seremonial, Boyong Menoreh menjadi cara masyarakat Temanggung untuk menjaga memori kolektif atas fase historis penting tersebut. Tradisi ini mengingatkan bahwa Parakan adalah cikal bakal pusat kekuasaan, sementara Temanggung tumbuh menjadi pusat pemerintahan modern.
Lebih dari sekadar festival, Boyong Menoreh adalah bentuk penghormatan masyarakat terhadap perjalanan sejarah kabupaten—sebuah narasi tentang perpindahan, adaptasi, dan tumbuhnya identitas Temanggung dari masa ke masa.